Jumat, 20 Juli 2012

EKOLOGI TANAMAN


PERSAINGAN ANTAR TANAMAN YANG BERBEDA JENIS

  I. Teori
            Salah satu bentuk interaksi antara satu populasi dengan populasi lain atau antara satu individu dengan individu lain adalah bersifat persaingan (kompetisi). Persaingan terjadi bila kedua individu mempunyai kebutuhan sarana pertumbuhan yang sama sedangkan lingkungan tidak menyediakan kebutuhan tersebut dalam jumlah yang cukup. Persaingan ini akan berakibat negatif atau menghambat pertumbuhan individu-individu yang terlibat.
            Sarana pertumbuhan yang sering menjadi pembatas dan menyebabkan terjadinya persaingan diantaranya air, nutrisi, cahaya, karbon dioksida, dan ruang. Persaingan terhadap air dan nutrisi umumnya lebih berat karena terjadi pada waktu yang lebih awal. Faktor utama yang mempengaruh persaingan antar jenis tanaman yang sama diantaranya kerapatan. Pengaruh persaingan dapat terlihat pada laju pertumbuhan (misalnya tinggi tanaman dan diameter batang), warna daun atau kandungan klorofil, serta komponen dan daya hasil.

II. Maksud dan Tujuan :
1. Mempelajari pengaruh persaingan antara dua jenis tanaman ( jagung dan kacang 
    hijau )
2. Membandingkan pertumbuhan tanaman yang ditanam secara monospesies dan
    heterospesies 

III. Bahan dan Alat :
Bahan : Benih kacang hijau dan jagung
Alat    : Pot/ember  plastik  berisi  tanah,  kertas  millimeter atau penggaris dalam alat penyiram.

  IV. Cara Kerja
1.  Sediakan 6 (enam) pot/ember plastik yang sudah berisi tanah.
2.  Pilih biji kacang dan jagung yang baik
3. Tanamlah biji tersebut ke dalam pot/ember plastik yang sudah disiapkan dengan pengaturan penanaman (perlakuan), sebagai berikut :
a.       4 biji kacang hijau sebagai kontrol
b.      4 biji jagung sebagai kontrol
c.       4 biji campuran (kacang hijau dan jagung)
Masing-masing perlakuan di atas diulang sebanyak 2 kali. Sediakan beberapa pot/ember yang ditanam biji jenis yang sama sebagai cadangan untuk penyulaman apabila selama percobaan ada tanaman yang mati.
4.  Penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanaman berumur 4 (empat) minggu.
5.  Pengukuran/parameter yang digunakan meliputi :
a.       Tinggi tanaman, dilakukan pada waktu tanaman berumur 1 – 4 minggu.
b.      Bobot tanaman basah dan kering angin.
6. Bandingkan tinggi dan bobot antara tanaman kontrol dengan yang diberi perlakuan. 
7.  Buatlah diagram pertumbuhannya dalam kertas grafik.
8.  Uji secara statistik, untuk mengetahui pengaruh seperti yang dibuat di atas. 

 V.   Hasil Praktikum
Minggu  ke - I 
Ulangan I

Kacang Hijau

Jagung
Campuran
Kacang Hijau
Jagung
24.5 cm
23.5 cm
23.8 cm
20.5 cm
15.1 cm
14.8 cm
9.5 cm
5 cm
23.8 cm
19.5 cm


17.3 cm
11.1 cm

23.08 cm
11.1 cm
17.93 cm

Ulangan II

Kacang Hijau

Jagung
Campuran
Kacang Hijau
Jagung
25.6 cm
23.5 cm
24 cm
23.7 cm
14.4 cm
17.8 cm
9.8 cm
13.3 cm
21.7 cm
21.7 cm

17.5 cm
11.7 cm
24.2 cm
13.83 cm
18.15 cm

Minggu ke - II 
Ulangan I

Kacang Hijau

Jagung
Campuran
Kacang Hijau
Jagung
40.5 cm
40.1 cm
39.8 cm
30 cm
27.6 cm
23.4 cm
19.9 cm
11.5 cm
35 cm
19.5 cm
35 cm
36.5 cm
37.6 cm
20.6 cm
31.5 cm


Ulangan II

Kacang Hijau

Jagung
Campuran
Kacang Hijau
Jagung
39.6 cm
36.5 cm
34.2 cm
38.5 cm
26 cm
31.2 cm
33 cm
33 cm
32.7 cm
37.3 cm
46.8 cm
38.3 cm
37.2 cm
30.8 cm
38.78 cm


Minggu ke - III 
Ulangan I

Kacang Hijau

Jagung
Campuran
Kacang Hijau
Jagung
75.2 cm
74.8 cm
72.3 cm
 58.6 cm
43 cm
47.7 cm
40.2 cm
27.3 cm
60 cm
59.5 cm
53.2 cm
58.3 cm
70.23  cm
39.55 cm
57.75 cm

Ulangan II

Kacang Hijau

Jagung
Campuran
Kacang Hijau
Jagung
 74 cm
56.5 cm
70 cm
71.5 cm
49.2 cm
58.7 cm
61.3 cm
60.8 cm  
60 cm
69 cm
89.9 cm
75.9 cm
68 cm
57.5 cm
73.7 cm

Minggu ke - IV 
Ulangan I

Kacang Hijau

Jagung
Campuran
Kacang Hijau
Jagung
113.4 cm                      111.2 cm
102.7 cm
98.7 cm
81.2 cm
84.2 cm
78.7 cm
43.5 cm   
119.7 cm
113.9 cm
100.5 cm
106 cm
106.5 cm
71.9 cm
110.03 cm


Ulangan II

Kacang Hijau

Jagung
Campuran
Kacang Hijau
Jagung
111.2 cm
97.2 cm
 101.8 cm
105.7 cm
90.3 cm
  101.7 cm
 115.3 cm
113.1
110.5 cm
  117.8 cm
116.5 cm
109.8 cm
103.98 cm
105.1 cm
113.65 cm

VI.   Pembahasan
RAL (Rancangan Acak Lengkap)

Perlakuan
Nilai Rata-rata

Total
Ulangan I
Ulangan II
Kacang hijau
Jagung
Campuran
59.35 cm
35.79 cm
  54.30 cm
58.35 cm
51.81 cm
61.07 cm
117.7 cm
87.6 cm
 115.37 cm
Jumlah
320.67  cm

DBP  = P – 1
          = 3 – 1 = 2
DBG = P ( n - 1 )
          = 3 ( 2 – 1 ) = 3
DBT  = ( Pn – 1 )
          = ( 3.2-1 ) = 5

FK =   (X1)2     
           P . n 
 
      = 320.672
           3 . 2


      = 102829.2489
                  6 

      = 17138.21

JKT = Y12 + Y22 + Y32 + Y42 + Y52 + Y62 – FK 
        = 59.352  + 58.352 + 35.792 + 51.812 + 54.302 + 61.072 – 17138.21 
        = 3522.42 + 3404.72 + 1280.92 + 2684.28 + 2948.49 + 3729.54 – 17138.21
        = 17570.367 – 17138.21
        = 432.16

JKP = X22 + X32  + X42   – FK
            n       n          n

        =  117.72   +   87.62   +   115.372   – 17138.21 
                 2               2                 2

        = 6926.65 + 3836.88 + 6655.12 – 17138.21
        = 280.44
JKG = JKT – JKP  
         = 432.16 – 280.44
         = 151.72

KTP =  JKP
             DBP
         = 280.44 / 2
         = 140.22

KTG =   JKG
               DBG

         =   151.72
                   3

         =   50.57

F. Hitung =  KTP
                      KTG
                 = 140.22 
                     50.57

                 = 2.77

Y =  X1                                               
       n . P
                                                         
    =  320.67
         2 . 3

    = 53.45    
                                           
KK = √KT.GALAT PERCOBAAN  x 100
                              Y

       = √50.57  x 100 
          √53.45

       = 97.26  %

SK
DB
JK
KT
F. Hitung
F. Tabel
5 %
1 %
Perlakuan
Galat
Total
2
3
5
280.44
151.72
432.16
140.22
50.57
2.77
9,55

30,82
      

Berat Basah Tanaman:  
Jagung ulangan I                     = 209 gr
Jagung ulangan II                   = 185 gr
Kacang Hijau ulangan I          =   16 gr
Kacang Hijau ulangan II          =  40  gr
Campuran ulangan I                = 150 gr
Campuran ulangan II              = 145 gr

Berat Kering Tanaman:  
Jagung ulangan I                     = 65 gr
Jagung ulangan II                   = 69 gr
Kacang Hijau ulangan I          =   3 gr
Kacang Hijau ulangan II         =   8 gr
Campuran ulangan I                = 39 gr
Campuran ulangan II              = 40 gr


Perhitungan Kadar Air 
Jagung  Ulangan I     =  Berat Basah – Berat Kering x 100  
                                                     Berat Kering

=    209 – 65 x 100 %
                                               65

=   240 %

Jagung Ulangan  II  =   Berat Basah – Berat Kering x 100  
                                                     Berat Kering

                                   =    185 – 69 x 100
                                              69

                                   =  168.12  %

Kacang Hijau Ulangan  I      =  Berat Basah – Berat Kering x 100  
                                                                 Berat Kering

                                                =     16 – 3 x 100
                                                           3

                                                =  433.33 %

Kacang Hijau Ulangan  II    =   Berat Basah – Berat Kering x 100  
                                                                  Berat Kering

                                                =    40 – 8 x 100
                                                           8

                                                =  400 %

Campuran Ulangan  I          =   Berat Basah – Berat Kering x 100  
                                                                  Berat Kering

                                                =   150 - 39  x 100
                                                            39
                                                =  284.615 %

Campuran Ulangan  II         =   Berat Basah – Berat Kering x 100  
                                                                  Berat Kering

=    145 – 40  x 100
            40

= 262.5



                                                        
VII.   Kesimpulan
           Dari perhitungan di pembahasa n dapt di ketahui bahwa pertumbuhan kedua tanaman yang berbeda jenis  namun di tanam dalam satu area atau lahan yang sama, pertumbuhan tanaman cukup baik dapat di lihat dari tinggi tanaman dan kadar iar yang ada pada tanaman. Hal ini di karenakan sertiap tanaman memerlukan unsure yang berbeda untuk tumbuh sehingga jika tanaman yang berbeda jenis kita tanam pada lahan yang sama jauh lebih baik hasilnye jika di bandingkan dengan tanaman yang di tanam pada lahan yang sama dan jenis yang sama pula.
           Karena antara tanaman yang sejenis akan memerlukan unsure yang sama sehingga akan terjadi persaingan yang lebih ketat di bandingkan tanaman yang di tanaman dengan lahan yang sama namun berbeda jenis, sehingga pertumbuhan tanaman yang yang berbeda jenis lebih baik di bandingkan dengan tanaman sejenis.            

 VIII.    Daftar Pustaka
  • Waluyo, Tri dan Saptomo Setiawan. 2008. Penuntun Praktikum Ekologi Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Nasional. Jakarta




ANALISIS VEGETASI
(KURVE SPESIES AREA)

A.    Maksud dan Tujuan
Untuk mengetahui luas petak minimum yang dapat mewakili type komunitas yang sedang dianalisis guna keperluan ekologi, suatu habitat tertentu atau komunitas tertentu.

B.     Dasar Teori
Vegetasi merupakan masyarakat yang hidup di dalam suatu habitat dalam suatu ekosistem. Pengertian vegetasi identil dengan komunitas tumbuhan, sementara itu ia berbeda jauh dengan pengertian flora dalam study floristik jenis tumbuhan dari suatu habitat yang sama.
Dalam study floristik jenis tumbuhan, kita dapat mengetahui adanya komposisi jenis tumbuhan didaerah tersebut. Study floristik memberikan pengertian-pengertian bersifat kualitati, sementara itu study vebetasi memberikan pengetian-pengertian kualitatif sekaligus pengertian kuantitatif.
Pada study vegetasi lebih jauh kita dapat mengerti adanya struktur dan peranan jenis tumbuhan di dalam komunitasnya.
Struktur dan peranan jenis tumbuhan di dalam vegetasi merupakan pencerminan dari faktor-faktor ekologi dan jenis itu sendiri yang berinteraksi pada waktu lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Oleh karena itu dalam mempelajari vegetasi pada suatu habitat kita dapat mengetahui masa lalu dari daerah tersebut, mengerti keadaannya sekarang yang sedang terjadi serta menduga kemungkinan-kemungkinan perkembangan dimasa yang akan datang.
Di samping itu analisis vegetasi bertujuan untuk mempelajari komposisi jenis tumbuhan, penyebaran jenisnya dan struktur dari suatu tipe vegetasi tertentu.
Study vegetasi secara ekologis adalah ingin mengetahui adanya struktur dan peranan jenis tumbuhan di dalam komunitasnya.
  
C.    Bahan dan Alat
Bahan        : Obyek, yaitu berupa suatu tipe komunitas tumbuhan tertentu.
Alat           : Tali atau benang dan meteran, counter atau penghitung, patok tanda batas, alat tulis dan kertas-kertas label, perlengkapan pembuatan herbarium.

D.    Cara Kerja
1.      Menentukan dan membatasi unit-unit petak penelitian dan memilih luas tertentu untuk petak pertama.
2.      Menentukan dan membatasi petak ke dua, ke tiga,...... dan seterusnya. Untuk petak-petak ini dibuat dengan kaidah, bahwa petak ke dua adalah dua kali (2 n) dari petak pertama, petak ke tiga adalah dua kali (2 n) dari petak ke dua, petak keempat adalah dua kali (2 n) dari petak ke tiga, dst. Sampai diperoleh data yang dianggap telah mewakili tipe komunitas yang dipelajari itu, sehubungan dengan sifat-sifat habitatnya.
3.      Mencatat data tanaman/tumbuhan yang diperinci sebagai jumlah jenis untuk setiap perubahan unit luas, pada setiap unit luas pengamatannya
4.      Mengitung persentase perubahan jumlah jenis tersebut untuk setiap unit luas petak contoh.
5.      Menghentikan penambahan luas unit petak contoh setelah ditemukan pertambahan yang tidak berarti dari kenaikan jumlah jenis luas petak yang mewakili data dalam analisis tersebut. Pertambahan kenaikan ini biasanya erkisar dari 5 – 10 %.
6.      Menggambar data yang diperoleh tersebut, sebagai sumbu datar (X) adalah luas petak dan sumbu tegak (Y) adalah jumlah jenis setiap luas unit petak contoh.
7.      Menarik garis yang mempunyai kemiringan 5 % atau 10 % dan membuat sebuah garis lain sejajar dengan garis tersebut, maka titik singgung dari kurve dengan garis lain akan menunjukkan unit luas petak contoh minimumyang mewakili pengambilan data dalam melakukan analisis type komunitas tanaman/tumbuhan yang sedang dipelajari.  

E.     Hasil Praktikum
         Dalam 4 meter lahan yang terletak di kebun percobaan Fakultas Pertanaian Universita Nasional yang terletak di jalan Bambu Kuning Pasar Minggu. Ternyata dalam 4 meter terdapat berbagai macam tanaman yang populasinya berbeda setiap tanaman. Rumput teki 265 tanaman, Patikan Kebo 73 tanaman, Ajeran 1 tanaman, Putri malu 3 tanaman, Rumpu – ruputan 17 tanaman.

F.     Pembahasan
Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik danabiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar danlain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatuwilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai factor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984; Sundarapandian dan Swamy, 2000).
Kehadiran vegetasi pada suatu landskap akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut.
Adanya perbedaan pengaruh tipe vegetasi terhadapsistem tata air pada suatu area antara lain disebabkan karena setiap jenis tumbuhan memiliki model arsitektur yang berbeda-beda. Model arsitektur biasanya diterapkan untuk tumbuhan berhabitus pohon yang merupakan gambaran morfologi pada suatu waktu dimana merupakan salah satu fase dari rangkaian pertumbuhan pohon tersebut. Model arsitektur pohon tertentu mempengaruhi translokasi air hujan menjadi laju aliran batang, air tembus tajuk, infiltrasi dan laju aliran permukaan pada suatu area yang terkait dengan peranan vegetasi dalam mengurangi laju erosi pada daerah tersebut.

G.    Kesimpulan

         Dalam luas lahan 4 meter di lahan percobaan bambu kuning terdapat berbagai macam tanaman yang populasinya berbeda setiap tanaman. Rumput teki 265 tanaman, Patikan Kebo 73 tanaman, Ajeran 1 tanaman, Putri malu 3 tanaman, Rumpu – ruputan 17 tanaman. Hal ini menunjnukkan bahwa lahan tersebut masih bagus dan mempunyai unsure hara yang cukup yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh, di lihat dari banyaknya dan bervariasinya tanaman yang tumbuh maka dapat di simpulkan bahwa lahan tersebut masih cukup baik untuk ditanami tanaman prodiktif.


H. Daftar Pustaka
  • Waluyo, Tri dan Saptomo Setiawan. 2008. Penuntun Praktikum Ekologi Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Nasional. Jakarta





PENGARUH ALLELOPATI JENIS TUMBUHAN  
TERHADAP PERKECAMBAHAN TANAMAN

I.    Maksud dan Tujuan
            Mempelajari pengaruh allelopati jenis tumbuhan terhadap perkecambahan tanaman .

II.      Teori
            Allelopati menurut Odum (1971) merupakan suatu peristiwa dimana suatu individu tumbuhan menghasilkan zat kimia yang dapat menghambat pertumbuhan jenis lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan tersebut. Menurut Whiiaker (1970) senyawa kimia yang bersifat allelopati bisa berasal dari bagian tumbuhan di atas tanah, seperti daun, batang cabang ataupun bagian tumbuhan di bawah tanah seperti akar/eksudat akar. Pada ekosistem pertanian alelopati dapat menurunkan atau meningkatkan produktivitas lahan, tergantung pada pembentuk alelokimia (tanaman atau gulma), organisme sasaran dan aktivitasnya.  Oleh karena itu penerapannya memerlukan strategi tertentu, yang menurut  Einhellig (1995a),  dan Caamal-Maldonado et al. (2001) adalah mengendalikan gulma dan atau patogen melalui:    
1.       Pola tanam di lapang. Untuk ini diperlukan tanaman non-produksi (yang selanjutnya disebut tanaman X), yang bersifat alelopat terhadap gulma atau patogen namun tidak terhadap tanaman produksi, dan pemanfaatannya melalui: a) rotasi tanam: dengan menanam tanaman X di antara waktu tanam tanaman produksi, b) cover crop:  tanaman X ditanam sebagai tanaman penutup tanah,  c) tanaman sela:  X ditanam di antara tanaman  produksi, atau d) mulsa: organ  tanaman X yang diketahui sebagai pembentuk alelokimia dijadikan sebagai mulsa. Pemilihan pola tanam didasarkan atas sifat morfologi dan fisiologi tanaman X, organ pembentuk alelokimia, mekanisme pelepasan, sifat alelokimia dan sebagainya.
2.       Produksi pestisida alami  dari alelokimia. Alelokimia yang menghambat gulma atau patogen diformulasi dan diproduksi secara marketable menjadi pestisida alami (herbisida, fungisida, bakterisida dan sebagainya).   
3.       Pemuliaan tanaman untuk memperoleh  kultivar tanaman produksi yang alelopatik bagi gulma pesaingnya. Pada jenis tanaman tertentu mungkin telah ada varitas alami yang bersifat demikian.  Bagi jenis tanaman yang belum mempunyai, kultivar seperti ini  perlu dikembangkan  melalui pemuliaan tanaman secara konvensional (hibridisasi, seleksi, dan identifikasi) maupun non-konvensional (transformasi gen, fusi protoplas, dan lain-lain).  
            senyawa-senyawa kimia tersebut dapat ditemukan pada jaringan tumbuhan (daun, batang, akar, rhizoma, bunga, buah, dan biji). Senyawa-senyawa tersebut dapat terlepas dari jaringan tumbuhan melalui berbagai cara yaitu melalui penguapan, eksudat akar, pencucian, dan pembusukan bagian-bagian organ yang mati.
 III.  Bahan dan Alat :
Bahan: Benih kacang hijau dan kacang merah, daun alang-alang, bayam, jambu   mete dan  akasia
Alat   : Cawan petridish, kertas saring, corong penyaring, mangkok penggerus, blender,   kertas merang, penggaris dll.

VI.    Cara Kerja
1.      Pilih biji kacang hijau dan kacang merah yang baik
2.      Sediakan beberapa (8 buah) cawan petridish yang diberi kertas merang
3.      Buatlah ektrak alang-alang, jambu mete dan akasia dengan cara sbb :
a.       Bersihkan bagian tumbuhan dari jenis tumbuhan tersebut di atas dari kotoran
b.      Buatlah ekstrak menggunakan mangkok penggerus atau blender dengan perbandingan sebagai beikut :
a)      Bagian tumbuhan dan air yaitu : 1 : 5, 1 : 1O, dan 1 : 10
b)      Rendam selama kurang lebih 12 jam
c.       Setelah 12 jam di rendam, saring ekstrak yang diperoleh dengan menggunakan alat penyaring.
4.      Letakkan masing-masing 10 biji kacang hijau dan jagung ke dalam cawan petridish yang berbeda yang sudah diberi kertas saring.
5.      Siramlah 5 ml ekstrak allelopati tumbuhan yang akan diamati ke dalam cawan Petri yang sudah berisi biji-biji tersebut.
6.      Amati perkecambahan biji-biji tersebut setiap hari selama 5 kali pengamatan
7.      Tentukanlah :
a.       Persentase perkecambahan
b.      Panjang bagian hipokotil dan epikotil
c.       Perbadingan hipokotil dan epikotil
8.      Bandingkan hasil percobaan tersebut dengan perkecambahan yang hanya diberi perlakuan disiram dengan air/akuadest (kontrol).
9.      Ujilah secara statistik, untuk mengetahui pengaruh allelopati alang-alang, jambu mete, bayam liar dan akasia terhadap perkecambahan ini.
        
         Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan setiap perlakuan diulang sebanyak 2 kali (pengolahan data selanjutnya sama dengan praktikum ke 3).

V. Hasil Pengamatan
Alleloptai pada “Daun Bayam Liar”
Pengamatan I
No
Kacang Hijau
Kacang Merah
Kontrol
1 : 5
1 : 10
1 : 15
Kontrol
1 : 5
1 : 10
1 : 15
1
2.3 cm
2 cm
2.4 cm
1.2 cm
0.4 cm
0.8 cm
0.5 cm
0.3 cm
2
2 cm
3 cm
1.8 cm
1.4 cm
0.6 cm
0.6 cm
1 cm
-
3
1.2 cm
2.5 cm
3 cm
1.5 cm
0.3 cm
0.4 cm
0.4 cm
0.4 cm
4
1.5 cm
2.8 cm
3.2 cm
1.5 cm
0.1 cm
0.8 cm
0.2 cm
-
5
1.8 cm
1.6 cm
1.2 cm
0.4 cm
0.5 cm
0.2 cm
0.5 cm
-
6
1 cm
1 cm
1.5 cm
0.6 cm
0.3 cm
0.7 cm
0.6 cm
-
7
0.8 cm
2 cm
0.8 cm
1.1 cm
0.6 cm
1 cm
-
0.2 cm
8
1 cm
2.2 cm
1 cm
1.2 cm
0.4 cm
0.5 cm
0.4 cm
0.5 cm
9
2.2 cm
2.3 cm
0.3 cm
1 cm
0.2 cm
0.6 cm
0.3 cm
0.3 cm
10
0.6 cm
2.8 cm
1.2 cm
1.5 cm
0.8 cm
0.5 cm
0.5 cm
-
1.44 cm
2.26 cm
1.64 cm
1.14 cm
0.42 cm
0.61 cm
0.44 cm
0.17 cm

Pengamatan II
No
Kacang Hijau
Kacang Merah
Kontrol
1 : 5
1 : 10
1 : 15
Kontrol
1 : 5
1 : 10
1 : 15
1
5.5 cm
4.7 cm
5.2 cm
3.1 cm
1.2 cm
1.8 cm
1.4 cm
0.7 cm
2
4.2 cm
6.5 cm
3.5 cm
3.2 cm
1.4 cm
1.5 cm
2 cm
-
3
3 cm
5.8 cm
5.8 cm
3.8 cm
0.9 cm
1 cm
1 cm
1 cm
4
 4 cm
6.3 cm
6.3 cm
4 cm
0.7 cm
1.6 cm
0.8 cm
0.6 cm
5
4.3 cm
4 cm
3.2 cm
1 cm
1 cm
0.8 cm
1.2 cm
-
6
2.8 cm
3.7 cm
3.5 cm
1.5 cm
0.8 cm
1.5 cm
1.4 cm
 0.5 cm
7
2.5 cm
4.4 cm
2 cm
3 cm
1.2 cm
2 cm
-
0.8 cm
8
2.2 cm
5.2 cm
2.6 cm
3.6 cm
1 cm
1.2 cm
1 cm
1.2 cm
9
5.5 cm
6.2 cm
0.8 cm
3.5 cm
0.6 cm
1.8 cm
0.7 cm
1 cm
10
1.8 cm
6.5 cm
2.5 cm
4 cm
1.5 cm
1.5 cm
1.1 cm
0.2 cm
3.58 cm
5.3 cm
3.54 cm
3.07 cm
1.03 cm
1.47 cm
1.06 cm
0.6 cm

Pengamatan III
No
Kacang Hijau
Kacang Merah
Kontrol
1 : 5
1 : 10
1 : 15
Kontrol
1 : 5
1 : 10
1 : 15
1
8. cm
6.5 cm
7.3 cm
4.5 cm
2.2 cm
3 cm
2.5 cm
1.5 cm
2
7.6 cm
9.4 cm
5 cm
6.1 cm
2.5 cm
2.4 cm
3.3 cm
-
3
4.5 cm
8.5 cm
8.8 cm
5.3 cm
1.4 cm
2 cm
2 cm
1.7 cm
4
5.5 cm
9 cm
9.2 cm
6.2 cm
1.2 cm
2.5 cm
2.2 cm
1.5 cm
5
5.8 cm
5.2 cm
4.4 cm
1.8 cm
2 cm
1.5 cm
2 cm
-
6
4.3 cm
4.8 cm
5.2 cm
3 cm
1.5 cm
2.2 cm
2.3 cm
1.2 cm
7
3.5 cm
6.5 cm
3 cm
4.5 cm
2 cm
3.6 cm
-
1.4 cm
8
4 cm
7.1 cm
3.7 cm
4.7 cm
1.8 cm
1.8 cm
1.6 cm
2 cm
9
8.5 cm
8 cm
1.5 cm
4.5 cm
1 cm
2.5 cm
1.3 cm
1.8 cm
10
 3 cm
8.3 cm
3.5 cm
6 cm
2.5 cm
2.6 cm
2 cm
0.5 cm
5.47 cm
7.33 cm
5.16 cm
4.66 cm
1.81 cm
2.41 cm
1.92 cm
1.16 cm

Pengamatan IV
No
Kacang Hijau
Kacang Merah
Kontrol
1 : 5
1 : 10
1 : 15
Kontrol
1 : 5
1 : 10
1 : 15
1
11.5 cm
8.8 cm
9.5 cm
7.2 cm
4 cm
4.1 cm
3.5 cm
2.4 cm
2
11 cm
13.5 cm
8.3 cm
9 cm
3.4 cm
3.5 cm
4.3 cm
-
3
7.2 cm
11.7 cm
10.5 cm
7.7 cm
2.5 cm
2.8 cm
3.2 cm
2.5 cm
4
8.1 cm
13.8 cm
12.3 cm
8.5 cm
1.8 cm
3.7 cm
4 cm
2.2 cm
5
8.2 cm
8.6 cm
7 cm
2.6 cm
4 cm
3 cm
2.7 cm
-
6
7 cm
8.4 cm
7.5 cm
4.7 cm
2.3 cm
2 cm
3.6 cm
1.9 cm
7
6 cm
9.2 cm
4.4 cm
6 cm
2.8 cm
4.5 cm
-
2 cm
8
6.5 cm
9 cm
5.6 cm
7.5 cm
2.4 cm
2.6 cm
2.5 cm
2.6 cm
9
11 cm
11.5 cm
2.1 cm
5.8 cm
2 cm
3.5 cm
1.8 cm
2.5 cm
10
5 cm
 12.6 cm
5.2 cm
7.3 cm
3.2 cm
3.4 cm
3 cm
0.7 cm
8.15 cm
10.71 cm
7.24 cm
6.63 cm
2.84 cm
3.31 cm
2.86 cm
1.68 cm

Pengamatan V
No
Kacang Hijau
Kacang Merah
Kontrol
1 : 5
1 : 10
1 : 15
Kontrol
1 : 5
1 : 10
1 : 15
1
14 cm
10.5 cm
12 cm
10 cm
5.5 cm
5.5 cm
4.5 cm
3.5 cm
2
13 cm
17 cm
9.5 cm
12 cm
4.5 cm
5,5 cm
6 cm
-
3
9 cm
14 cm
12.5 cm
10 cm
4 cm
3.5 cm
4.5 cm
3.5 cm
4
10 cm
16.5 cm
14 cm
10 cm
3 cm
5.5 cm
5 cm
3 cm
5
10 cm
10.5 cm
8.5 cm
3.5 cm
5 cm
4 cm
4 cm
-
6
8.5 cm
10.5 cm
9.5 cm
6.5 cm
3 cm
3.5 cm
5 cm
3 cm
7
7.5 cm
11.5 cm
5.5 cm
8.5 cm
4cm
6 cm
-
2.5 cm
8
7 cm
10 cm
7 cm
9 cm
3.5 cm
3.5 cm
3.5 cm
3.5 cm
9
12 cm
14 cm
2.5 cm
7.5 cm
3 cm
5 cm
2.5 cm
3.5 cm
10
6 cm
14.5 cm
6.5 cm
9 cm
4 cm
4.5 cm
4 cm
1 cm
9.7 cm
12.9 cm
8.75 cm
8.6 cm
3.95 cm
4.56 cm
3.9 cm
2.94 cm

IV. Pembahsan
Perlakuan
U.I
U.II
U.III
U.IV
U.V
U.VI
U.VII
U.VIII
U.IX
U.X
JUMLAH
 KONTROL
5.46 
5.02 
3.4 
2.29 
 4.26
3.5 
3.54 
2.98 
4.6 
2.84 
37.89 
 1 : 5
4.77 
6.29 
5.4 
4.05 
6.49 
3.62 
4.47 
4.01 
4.64 
3.82 
47.56 
 1 : 10
4.88 
4.47 
3.47 
5.72 
3.93 
2.56 
1.02 
1.84 
1.2 
1.65 
30.74 
 1 : 15
3.44 
1.97 
3.74 
2.45 
0.93 
2.36 
3.58 
2.04 
2.02 
25.53 
141.72

DBP  = P – 1 = 4 – 1 = 3

DBG = P ( n - 1 ) = 4 ( 10 – 1 ) = 36
         
DBT  = ( Pn – 1 ) = ( 4.10-1 ) = 39
         
FK =   (X)2  141.722  = 20084.56 = 502.11
           P . n        4 . 10                        40


JKT = Y12 + Y22 + Y32 + Y42 + Y52 +………. + Y402 – FK 
        = 5.462 + 6.292 + 3.42 + 2.292 + 4.262 + 3.52 + 3.542 + 2.982 + 4.62 + 4.772 + 2.842 + 6.292 + 5.42 + 4.052 + 6.492 + 3.622 + 4.472 + 4.012 + 4.642 + 3.822 + 4.882 +  4.472 + 3.472 + 5.722 + 3.932 + 2.562 + 1.022 + 1.842 + 1.22 + 1.652 + 3.442 + 1.972 + 3.742 + 2.452 + 0.932 + 2.362 + 32 + 3.582 + 2.042 + 20.22
        = 579.48 – 502.11
        = 77.37

JKP =  X12  +  X22  +  X32  +  X42   – FK  
             n          n          n         n

        =    37.892   +       47.562     +     30.742   +     25.532       –  FK 
                 10                   10                  10                10

        = 143.57 + 226.2 + 94.49 + 65.18 – 502.11
        = 92,77 – 83,521
        = 27.33

JKG = JKT – JKP = 77.37 – 27.33  = 50.04
        
KTP    =  JKP / DBP = 27.33 / 3 = 9.11

KTG   =   JKG / DBG =   50.4 / 36 = 1.4

F. Hitung        =  KTP / KTG = 9.11 / 1.4 = 6.51

Y =   X5     =   141.72  = 3.54
        n . P         10 . 4
                                                                                        
                                                     
KK = √KT.GALAT PERCOBAAN  x 100√1.4  x 100  = 62.89 %
                               Y                                           √3.54

SK
DB
JK
KT
F. HITUNG
F TABEL
1%
5%
Perakuan
3
27.33
9.11
6.51

Galat
36
50.04
1.4
14.55
5.96
Total
39
77.37




Kesimpulan Tabel
Untuk 5 % = F. Hitung > 5 % : beda nyata
Untuk 1 % = F. Hitung > 5 % < 1 % : tidak beda nyata

  VII.   Kesimpulan
            Alelopati merupakan sebuah fenomena yang berupa bentuk interaksi antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya melalui senyawa kimia (Rohman, 2001). Sedangkan menurut Odum (1971) dalam Rohman (2001) alelopati merupakan suatu peristiwa dimana suatu individu tumbuhan yang menghasilkan zat kimia dan dapat menghambat pertumbuhan jenis yang lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan tersebut. Istilah ini mulai digunakan oleh Molisch pada tahun 1937 yang diartikan sebagai pengaruh negatif dari suatu jenis tumbuhan tingkat tinggi terhadap perkecambahan, pertumbuhan, dan pembuahan jenis-jenis lainnya. Kemampuan untuk menghambat pertumbuhan tumbuhan lain merupakan akibat adanya suatu senyawa kimia tertentu yang terdapat pada suatu jenis tumbuhan. Dalam Rohman (2001) disebutkan bahwa senyawa-senyawa kimia tersebut dapat ditemukan pada jaringan tumbuhan (daun, batang, akar, rhizoma, bunga, buah, dan biji). Lebih lanjut dijelaskan bahwa senyawa-senyawa tersebut dapat terlepas dari jaringan tumbuhan melalui berbagai cara yaitu melalui penguapan, eksudat akar, pencucian, dan pembusukan bagian-bagian organ yang mati. Anonim a (Tanpa Tahun) menjelaskan lebih lanjut proses-proses tersebut melalui penjelasan berikut ini.
·      Penguapan
Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah Artemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar.
·      Eksudat akar
Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat.
·      Pencucian
Sejumlah senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada di atas permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun. Hasil cucian daun tumbuhan Crysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini.
·      Pembusukan organ tumbuhan
Setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian organ yang mati akan kehilangan permeabilitas membrannya  dan dengan mudah senyawa-senyawa kimia yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni tanaman budidaya atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya
Selain melalui cara-cara di atas, pada tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah (Anonim a, Tanpa Tahun).
Rohman (2001) menyebutkan bahwa senyawa-senyawa kimia tersebut dapat mempengaruhi tumbuhan yang lain melalui penyerapan unsur hara, penghambatan pembelahan sel,pertumbuhan, proses fotosintesis, proses respirasi, sintesis protein, dan proses-proses metabolisme yang lain. Lebih lanjut, Anonim a (Tanpa Tahun) menjelaskan tentang pengaruh alelopati terhadap pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut.
  • Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.
  • Beberapa alelopat menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan.
  • Beberapa alelopat dapat menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan.
  • Beberapa senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar.
  • Senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein.
  • Beberapa senyawa alelopati dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan.
  • Senyawa alelopati dapat menghambat aktivitas enzim.
Rice (1974) dalam Salempessy (1998) dalam Tetelay (2003) juga menjelaskan bahwa senyawa alelopat dapat menyebabkan gangguan atau hambatan pada perbanyakan dan perpanjangan sel, aktifitas giberalin dan Indole Acetid Acid ( IAA ), penyerapan hara, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan mulut daun, sintesa protein, aktivitas enzim tertentu dan lain-lain. Selain itu Patrick (1971) dalam Salampessy (1998) dalam Tetelay (2003) menyatakan bahwa hambatan allelopathy dapat pula berbentuk pengurangan dan kelambatan perkecambahan biji, penahanan pertumbuhan tanaman, gangguan sistem perakaran, klorosis, layu, bahkan kematian tanaman.
Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun (Anonim a, Tanpa Tahun). Namun kuantitas dan kualitas senyawa alelopati yang dikeluarkan oleh tumbuhan dapat dipengaruhi oleh kerapatan tumbuhan alelopat, macam tumbuhan alelopat, saat kemunculan tumbuhan alelopat, lama keberadaan tumbuhan alelopat, habitus tumbuhan alelopat, kecepatan tumbuh tumbuhan alelopat, dan jalur fotosintesis tumbuhan alelopat (C3 atau C4).
Dalam Pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa allelopati merupakan zat yang dapat menganggu pertumbuhan suatu tanaman, dalam praktikum kali ini di gunakan 4 jenis allelopati yang di gunakan yaitu berasal dari daun bayam liar, daun jambu mete, daun akasia, dan alang – alang. Dan pada praktikum ini saya menggunakan allepat yang berasal dari daun bayam ternyata allelopati yang terdapat pada bayam ternyata yang paling sedikit mengandung allepopati dan zat allelpoti yang tertinggi ternyata terdapat pada daun akasia
 VIII.    Daftar Pustaka
  • Waluyo, Tri dan Saptomo Setiawan. 2008. Penuntun Praktikum Ekologi Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Nasional. Jakarta
  • http://iqbalali.com/2008/01/23/alelopati/



PENGARUH NAUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN

A.    Maksud dan Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh naungan terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau yang ditanam di dalam rumah kaca dengan di lahan terbuka.

B.     Dasar Teori
Kacang hijau menduduki tempat ketiga dari tanaman kacang-kacangan di Indonesia, setelah kedelai dan kacang tanah. Usaha mempertinggi produksi kacang hijau di Indonesia dimaksudkan untuk menaikkan produksi sebagai tanaman palawija. Selain usaha-usaha perbaikkan cara-cara bercocok tanam juga diperlukan peningkatan usaha-usaha pengelolaan lepas panennya. Dalam usaha perluasan pertanaman kacang hijau di Indonesia harus melihat daya adaptasi varietas yang telah dipunyai oleh Puslitbangtan di daerah-daerah baru termasuk didalamnya usaha-usaha pemilihan varietas-varietas yang tahan kering.
Contoh varietas kacang hijau yang dianjurkan dan mempunyai kemampuan produksi cukup tinggi adalah Siwalik, Arta Ijo, Bhakti, Varietas No. 129, Merak, Gelatik, Manyar, Nuri, Walet Betet.
Berdasarkan adaptasi tanaman terhadap perbedaan intensitas cahaya dapat dibedakan 2 jenis tanaman :
a.       Tanaman yang senang naungan (shade adapted)
b.      Tanaman yang tak senang naungan (sun adapted)
Cahaya matahari dapat menjadi kritis bila intensitas meningkat dan sebaliknya bila intensitas turun, misalnya intensitas tinggi lalu foto oksidasi rendah maka respirasi cepat sehingga dapat menghabiskan hasil fotosintesis. Sintesa protein berkurang menghasilkan karbohidrat yang tinggi, demikian pula sebaliknya. Hal inilah yang merupakan salah satu penyebab sulitnya mendapatkan hasil produksi dari tanaman pangan dengan protein yang tinggi di daerah tropis.
 
C.    Bahan dan Alat
Bahan        : Benih
Alat           : Penggaris, pollybag.
D.    Cara Kerja                                   
1.      Siapkan polybag kemudian isi dengan tanah.
2.      Menanam kacang hijau pada 2 perlakuan :
-          Pada green house ada 5 ulangan
-          Pada lahan luar ada 5 ulangan
3.      Mengisi pollybag di isi 2 biji pada masing - masing pollybag (green house / lahan)
4.      Merawat dan menyiram tanaman tersebut supaya dapat tumbuh dengan baik.
5.      Pengamatan yang dilakukan sebanayk 4 kali dalm kurun waktu 4 minggu


E.     Hasil Pengamatan
Minggu  I
Green House
Kacang Hijau
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 5
20 cm
17.9 cm
15.5 cm
15.7 cm
15.8 cm
10 cm
19.9 cm
14 cm
13.5 cm
12.8 cm
37.9 cm
31.2 cm
25.8 cm
33.9 cm
26.3 cm

Lahan
Kacang Hijau
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 5
11 cm
10.5 cm
12.5 cm
11.8 cm
13 cm
13.2 cm
13.1 cm
12 cm
11.2 cm
12.5 cm
21.5 cm
23.3 cm
26.2 cm
25.1 cm
23.7 cm

Minggu II
Green House
Kacang Hijau
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 5
34 cm
34 cm
31.5 cm
31.3 cm
27.8 cm
25 cm
27 cm
38 cm
33.5 cm
28.3 cm
 68 cm
62.8 cm
52.8 cm
65 cm
61.8 cm

Lahan
Kacang Hijau
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 5
22 cm
19 cm
23.8 cm
21.3 cm
23.8 cm
25.3 cm
22 cm
21.5 cm
20.5 cm
16.5 cm
41 cm
55.1 cm
59.1 cm
43.5 cm
37 cm


Minggu III
Green House
Kacang Hijau
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 5
45 cm
47.3 cm
40.3 cm
44.5 cm
37.2 cm
33.6 cm
36 cm
45.3 cm
41.5 cm
32.7 cm
92.3 cm
84.8 cm
70.8 cm
81.3 cm
73.2 cm

Lahan
Kacang Hijau
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 5
39.4 cm
35.3 cm
40.1 cm
38.7 cm
43.2 cm
46.7 cm
39.8 cm
36.9 cm
40 cm
32.5 cm
74.7 cm
78.8 cm
89.9 cm
77.7 cm
72.5 cm

Minggu IV
Green House
Kacang Hijau
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 5
67.3 cm
71.4 cm
59.3 cm
73 cm
55.3 cm
52.3 cm
54.5 cm
66.8 cm
60 cm
51.5 cm
138.7 cm
132.3 cm
107.6 cm
121.3 cm
111.5 cm

Lahan
Kacang Hijau
Ulangan 1
Ulangan 2
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 5
53.5 cm
50.1 cm
55.7 cm
52 cm
58.6 cm
63.5 cm
52.9 cm
53.1 cm
54.1 cm
47.3 cm
103.6 cm
107.7 cm
122.1 cm
106 cm
101.4 cm


F.     Pembahasan
Perlakuan
U.I
U.II
U.III
U.IV
U.V
JUMLAH
Green House
84.23
77.78
64.25
75.38
68.2
369.84 
Lahan
60.2 
66.23 
74.33 
63.08 
58.56 
322.4 
        JUMLAH
692.24


DBP  = P – 1 = 2 – 1 = 1

DBG = P ( n - 1 ) = 2 ( 5 – 1 ) = 8
         
DBT  = ( Pn – 1 ) = ( 2.5 – 1 ) = 9
         
FK =   (X)2  692.242  = 47916.22 = 47919.62
           P . n        2 . 5              10


JKT = Y12 + Y22 + Y32 + Y42 + Y52 – FK 
        = 84.232 + 77.782 + 64.252 + 75.382 + 68.22 + 60.22 + 66.232 + 74.332 + 63.082 + 58.562 – 4791.62
        = 7094.69 + 6049.73 + 4128.06 + 5682.14 + 4651.24 + 3624.04 + 4386.41 + 5524.95 + 3979.09 + 3429.27 – 4791.62
        = 48549.62 – 47919.62
        = 630

JKP =  X12  +  X22 – FK  
             n          n      

        =    369.842   +    322.42    –   47919.62
                   5                  5

        = 27356.33 + 20788.35 – 47919.62
        = 48144.68 – 47919.62
        = 225.06

JKG = JKT – JKP = 630 – 225.06  = 404.94
        
KTP    =  JKP / DBP = 225.06 / 1 = 225.06

KTG   =   JKG / DBG =   404.94 / 8 = 50.62

F. Hitung        =  KTP / KTG = 225.06 / 50.62 = 4.446

Y =   X5     =   692.24  = 69.22  
        n . P          5 . 2
                                                                                        
                                                      
KK = √KT.GALAT PERCOBAAN  x 100√50.62  x 100  = 85.52 %
                               Y                                           √69.22

SK
DB
JK
KT
F. HITUNG
F TABEL
1%
5%
Perakuan
1
225.06
225.06
4.45

Galat
8
404.94
50.62
11.26
5.32
Total
9
630




Kesimpulan Tabel
Untuk 5 % = F. Hitung < 5 % : tidak beda nyata
Untuk 1 % = F. Hitung < 5 % < 1 % : tidak beda nyata

G.    Kesimpulan
            Pemberian naungan pada jenis tanaman tertentu sanagt di anjurkan pada sebagian jenis tanaman sebab ada jenis tanaman yang tidak memerlukan sinar matahari yang banyak sehingga pemberian naungan pada tanaman jenis ini sangat di anjurkan agar tanaman dapat tumbuh secara optimal. Pada praktikum kali ini di gunakan tanaman kacang hijau sebagai percobaan di mana tanaman ditanaman pada pollybag dan masing masing polly bag berisi 2 tanaman dan ada sebanyak 5 ulangan. Ada dua perlakuan dalam praktikum kali in, perlakuan pertama tanaman di letakkan pada green house sedangkan perlakuan yanh ke dua tanaman di letakkan pada lahan  terbuka.
            Sangat jelas perbedaannya antara tanaman yang di tanaman di laha dan tanaman yang di tanam di dalam green house, dimana tanaman yang di tanaman di dalam green house memilki rata – rata tinggi lebih tinggi di bandinkan dengan tanaman yang di tanaman di lahan terbuka. Hali ini di karenakan suhu di lahan yang tidak menetap sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan optimal belum lagi gangguan dari gulma tanaman yang di tanam di lahan terbuka lebih banyak gulma di sekitar tanaman sehingga tanaman tidak dapat tumbuh secara optimal, sedangkan pada green house suhu tetap dan lebih hangat sehingga tanaman dapat tumbuh secara optimal dan pertumbuhan gulma tidak terlalu banayak di sekitar tanaman bila di bandingkan dengan tanaman yang di tanam di lahan, sehingga tanaman dapat tumbuh secara optimal tanpa gangguan dari gulma.
             
H.    Daftar Pustaka
  • Waluyo, Tri dan Saptomo Setiawan. 2008. Penuntun Praktikum Ekologi Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Nasional. Jakarta.




PERSAINGAN ANTAR TANAMAN SEJENIS

A.    Maksud dan Tujuan :
Mempelajari pengaruh jarak tanam atau kerapatan tanam terhadap pertumbuhan tanaman.

B.     Teori Singkat :

C.    Bahan dan Alat :
Bahan        : Benih jagung.
Alat           : Pot/ember plastik berisi tanah,  kertas  milimeter  atau  penggaris  dan
  alat penyiram.

D.    Cara Kerja :
1.      Menyediakan 6 (enam) pot/ember plastik yang sudah berisi tanah.
2.      Memilih biji jagung yang baik.
3.      Menanam biji tersebut ke dalam pot/ember plastik yang sudah disiapkan dengan pengaturan penanaman (perlakuan), sebagai berikut :
a.       1 biji jagung sebagai kontrol
b.      5 biji jagung
c.       10 biji jagung
masing – masing perlakuan di atas diulang sebanyak 2 kali.
Menyediakan beberapa pot/ember yang ditanami biji jenis yang sama sebagai cadangan untuk penyulaman apabila selama percobaan ada tanaman yang mati.
4.      Menyiram tanaman setiap hari sampai tanaman berumur 4 (empat) minggu.
5.      Mengukur tanaman dengan parameter yang digunakan meliputi :
a.       Tinggi tanaman, dilakukan pada waktu tanaman berumur 1 – 4 minggu.
b.      Bobot tanaman basah dan kering angin.
6.      Membandingkan tinggi dan bobot antara tanaman kontrol dengan yang diberi perlakuan jarak tanam (kerapatan).
7.      Membuatlah diagram pertumbuhan dalam kertas grafik.
8.      Menguji statistik, apakah ada pengaruh yang nyata dari jarak tanam terhadap pertumbuhan tinggi tanaman.

Catatan
Pada pot/ember plastik yang ditumbuhi lebih dari satu individu tanaman akan menimbulkan persaingan antara tanaman tersebut dalam pengambilan unsur hara yang terdapat di dalam tanah. Semakin banyak jumlah tanaman, maka kebutuhan akan unsur haranya semakin besar. Pengkajian statistik menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) adalah sebagai berikut :



E. Hasil dan Pembahasan

Hasil
Minggu ke 1
Ulangan 1
Ulangan 2
1 jagung
5 jagung
 10 jagung
1 jagung
5 jagunng
10 jagung
-
62
52
64
65
58.5
35
28.5
60
66
67.5
71
72
58.5
69
61
64
71
56.5
-
60.3
40
58.5
38.8
12.75

Minggu ke 2
Ulangan 1
Ulangan 2
1 jagung
5 jagung
10 jagung
1 jagung
5 jagunng
10 jagung
-
73.2
62.1
73.2
77.2
66.3
59.5
46.2
70.5
77.2
78.4
83.5
84.4
79.5
78.1
70.2
76.3
82.4
86.4
-
70.4
49.97
79.5
44.92
16.88


Minggu ke 3
Ulangan 1
Ulangan 2
1 jagung
5 jagung
10 jagung
1 jagung
5 jagung
10 jagung
-
80.6
88.2
56.3
89.7
75.3
62.5
75.3
77.1
59.4
118.6
98.1
96.9
87.2
93.1
75.7
81.5
93.4
95.2
-
78.02
58.79
87.2
50.06
18.86



Minggu ke 4
Ulangan 1
Ulangan 2
1 jagung
5 jagung
10 jagung
1 jagung
5 jagung
10 jagung
-
104.1
107.8
99.9
110
95.4
76.5
81
82
75.5
122.5
105.2
101.3
104
108.3
79.7
94.5
102.2
101.5
-
103.44
64.4
104
56.5
20.37



Pembahasan
RAL ( Rancangan Acak Lengkap )
Perlakuan
Nilai rata - rata
Total
Ulangan 1
Ulangan 2
1 jagung
5 jagung
10 jagung
0 cm
49.68 cm
21.32 cm
82.3 cm
47.57 cm
17.22 cm
82.3 cm
97.25cm
38.54 cm
JUMLAH
218.09 cm

DBP = P – 1 = 3 – 1 = 2
DBG = P (n – 1 ) = 3 (2 – 1) = 3
DBT = (P.n – 1) = (3.2 – 1) = 5  


FK = (X1)2 
          P . n

      = (218.09)2  
            3 . 2

      = 7927.21

JKT = Y12 + Y22 + Y32 + Y42 + Y52 + Y62 – FK  
         = (0)2 + (82.3)2 + (49.68)2 + (47.57)2 + (21.32)2 + (17.22)2 – 47563.25
         = 0 + 6773.29 + 2468.1 + 2262.9 + 454.54 + 296.53 – 7927.21
         = 12255.35 – 7927.21
         = 4328.14          

JKP =   X22    +   X3 +   X42    –  FK
              n             n            n

         = (82.3)2(97.25)2  + (38.54)2  -  7926.77
                2               2                2
               
         =  3386.65 + 4728.78 + 742.67 – 7927.21
         =  930.89


JKG = JKT – JKP
         = 4328.14 – 930.89
         = 3397.25

KTP = JKP / DBP                       KTG = JKG / DBG  
         = 930.89 / 2                                    =  3397.25 / 3
         = 465.45                                         = 1132.42

F .HITUNG = KTP / KTG
                = 465.45 / 1132.42
                = 0,41

Y = X1 / p . n
    = 218.09 / 6
    = 36.35

KK = √KTG  x 100
       Y

= 1132.42x 100
          √36.35

      = 556.20 %


SK
DB
JK
KT
F.hitung
F. Tabel
5 %        1 %
Perlakuan
2
930.89
465.45


Galat
3
3397.25
3397.25
0.41
  9.55          30.82
Total
5
4328.14




Kesimpulan tabel
Untuk 5 % = F. Hitung < 5 % : tidak ada beda nyata
Untuk 1 % = F. Hitung < 5 % < 1 % : tidak beda nyata

Berat Basah Tanaman:  
1 Jagung ulangan I                  =      - gr
1 Jagung ulangan II                =    37 gr
5 Jagung ulangan I                  =    96 gr
5 Jagung ulangan II                 =    57 gr
10 Jagung ulangan I                =  192 gr
10 Jagung ulangan II              =  185 gr

Berat Kering Tanaman:  
1 Jagung ulangan I                  =   -      gr
1 Jagung ulangan II                =    8   gr
5 Jagung ulangan I                  =  54    gr
5 Jagung ulangan II                =  15   gr
10 Jagung ulangan I                =  69    gr
10 Jagung ulangan II              =  26    gr


Kadar air :
1 Jagung  Ulangan I  =    Berat Basah      -   Berat Kering   x  100  
                                                     Berat Kering

                                  =    -
                                             

1 Jagung Ulangan  II =    Berat Basah      -   Berat Kering   x  100  
                                                     Berat Kering

                                  =    37 gr   -  8 gr  x 100
                                                  8 gr

                                  =   362.5 %

 5 Jagung Ulangan I  =   Berat Basah      -   Berat Kering   x  100  
                                                     Berat Kering

                                  =   96  gr  -  54 gr   x  100
                                               54 gr

                                  = 77.78   %

 5 Jagung  Ulangan II  = Berat Basah      -   Berat Kering   x  100  
                                                     Berat Kering

                                    = 57 gr  -  15 gr  x 100      
                                               15 gr

                                    =  280 %

10 Jagung Ulangan I  =   Berat Basah      -   Berat Kering   x  100  
                                                     Berat Kering

                                   =  192 gr   -  69 gr  x 100
                                                  69 gr

                                   =  178.26 %

10 Jagung Ulangan II  =    Berat Basah    -   Berat Kering   x  100  
                                           Berat Kering

                                    =    185 gr  -  4 gr   x  100      
                                                 26  gr

                                    =   611.54 %                   
Pembahasan                                                     
      Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan interaksi antara faktor genetika dan lingkungan. Pengelolaan system budidaya suatau tanaman merupakan suatu sistem manipulasi yang dilakukan agar faktor genetika melalui pemilihan varietas dan pengolahan lingkungan melalui perbaikan cara bercocok tanam seperti pengolahan tanah, pemupukan, pengairan dan sebagainya merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk mendapatkanpertumbuhan dan produksi tanaman secara optimal. Hasil analisis statistika pengujian pengaturan jarak tanam, populasi dan pengolahan tanah memperlihatkan bahwa perlakuan pengolahan tanah berpengaruh sangat nyata terhadap parameter pertumbuhan dan produksi tanaman. Perlakuan populasi berpengaruh nyata sampai sangat nyata. Perlakuan pemupukan dan interaksi antara ketiganya berpengaruh tidak nyata.
Salah satu bentuk interaksi antara satu populasi dengan populasi lain atau antara satu individu dengan individu lain adalah bersifat persaingan (kompetisi). Persaingan terjadi bila kedua individu mempunyai kebutuhan sarana pertumbuhan yang sama sedangkan lingkungan tidak menyediakan kebutuhan tersebut dalam jumlah yang cukup. Persaingan ini akan berakibat negatif atau menghambat pertumbuhan individu-individu yang terlibat.
Persaingan dapat terjadi diantara sesama jenis atau antar spesies yang sama (intraspesific competition), dan dapat pula terjadi diantara jenis-jenis yang berbeda (interspesific competition). Persaingan sesama jenis pada umumnya terjadi lebih awal dan menimbulkan pengaruh yang lebih buruk dibandingkan persaingan yang terjadi antar jenis yang berbeda.
Sarana pertumbuhan yang sering menjadi pembatas dan menyebabkan terjadinya persaingan diantaranya :
·        Air
alam tanah, air dapat merupakan lapisan yang membungkus permukaan butiran-butiran tanah. Pada tanah dengan tekstur halus akan terdapat banyak agregat yang permukaannya memiliki lapisan air tetapi lebih banyak lagi bahan-bahan koloidal akibatnya tanah demikian banyak mengandung air. Air mempunyai beberapa fungsi :
a. Daya pelarut unsur-unsur yang diambil oleh tanaman.
b. Mempertinggi reaktivitas persenyawaan yang sederhana/kompleks.
c. Berperan dalam proses fotosintesis.
d. Penyangga tekanan di dalam sel yang penting dalam aktivitas sel tersebut.
e. Mengabsorbsi temperatur dengan baik/mengatur temperatur di dalam tanaman.
f. Menciptakan situasi temperatur yang konstan.
Air di dalam tanah dalam keadaan seimbang dengan di dalam tanaman. Masuk dan keluarnya air dari dalam tubuh tanaman ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor ekologis.
1. Kelembaban di dalam udara
          Uap air yang dikandung di udara dikenal sebagai lembab relatif udara. Lembab relatif udara ini menyatakan persentase udara dibanding dengan kelembaban maksimum uap air yang dikandung udara tersebut pada temperatur yang bersangkutan.
Sehingga udara yang panas dapat mengandung uap air lebih besar daripada udara dingin. Lembab relatif ini selalu bervariasi tiap hari yaitu rendah pada siang hari dan tinggi pada malam hari. Di daerah-daerah hutan titik terendah yang dicapai sebesar 80% sedang di gurun-gurun pasir titik terendah dari lembab relatifnya akan mencapai 10%.
2. Awan dan kabut
          Awan terjadi pada pendinginan udara yang naik dan terjadi pada daerah yang lebih dingin. Kabut terjadi pada pendinginan udara di atas permukaan tanah. Tanaman-tanaman hampir tidak dapat menggunakan air yang terdapat di dalam udara, oleh karena lapisan-lapisan kulit tidak tembus air, sehingga di dalam udara tidak dapat digunakan langsung oleh tanaman.
3. Hujan
          Dalam bentuk hujan air dapat dimanfaatkan oleh tanaman-tanaman tetapi air yang jatuh sebagai air hujan ini tidak seluruhnya dapat digunakan tanaman oleh karena beberapa sebab.
a. Penguapan; terjadi pada beberapa proses ialah yang terjadi pada waktu hujan di dalam perjalanan mencapai tanah dan penguapan yang terjadi oleh air hujan yang ditahan daun-daun.
b. Mengalirnya air di atas permukaan tanah.
  • Nutrisi
Bahan organik dalam tanah merupakan kerangka tubuh tanah sehingga sangat menentukan sifat-sifat fisis dan kimia tanah. Penambahan humus ke dalam tanah berarti menambah bahan organik dalam tanah dan akan merubah keadaan tanah dengan cepat.
Peranannya terhadap tanaman :
1. Sebagai sumber makanan
          Bila sisa-sisa tanaman yang sudah mati dikembalikan ke dalam tanah diubah menjadi humus maka dalam proses mineralisasinya humus ini berbentuk ion dan kation yang dapat diserap langsung oleh tanaman. Pada tanah-tanah yang masih perawan, mula-mula sangat subur tetapi kemudian produktivitasnya banyak menurun oleh karena bahan organik akan dirusak dan siklus-siklus unsur akan terputus oleh karena pengangkutan hasil tanaman dari daerah tersebut. Proses ini akan berlangsung terus sampai terbentuk keseimbangan baru dan terbentuknya pada tingkatan rendah tergantung dari jumlah pengembalian unsur-unsur hara tersebut.
Tanaman-tanaman di dalam proses pertumbuhannya banyak sekali menambah bahan-bahan ke dalam tanah dibanding dengan bahan-bahan yang diambil dari tanah itu dan bahan-bahan ini akan mengembalikan ke dalam tanah semua mineral yang diambil dan ditambah dengan bahan organik sejumlah kurang lebih sama dengan mineral tersebut.
2. Bahan organik punya kekuatan yang tinggi sebagai penahan air
          Sering terjadi daya penahanan air dari BO di dalam tanah terlalu besar sehingga ini akan merubah reaksi tanah. Bahan organik juga punya pengaruh positip terhadap struktur tanah.
Penambahan bahan organik pada tanah-tanah yang bertekstur berat akan memperbaiki struktur tanah tersebut.
3. Pengaruh mekanis lapisan BO pada lapisan atas bagian tanah membawa keuntungan sebagai berikut :
a. Memperkecil angka kematian pada biji-biji yang ditanam pada lapisan atas tanah.
b. Menahan pemadatan tanah karena benturan air hujan.
c. Mencegah adanya aliran permukaan (run-off)
  • Cahaya
Cahaya dalam sehari-hari adalah cahaya yang mempunyai panjang gelombang antara  400 – 750 mu.
Cahaya terdiri atas beberapa macam warna
violet           400 – 435  mu
biru             435 – 490 mu
hijau            490 – 574 mu
kuning         574 – 595 mu
Orange        595 – 626  mu
Merah         626 – 750  mu
Cahaya dengan panjang gelombang di atas disebut sebagai visible light/visible spectrum. Di luar ini terdapat infra red dan ultra violet.
          Cahaya sebagai sumber energi dan terutama untuk vegetasi mempunyai tiga faktor penting, yaitu :
1. intensitasnya
2. kualitasnya
3. fotoperiodesitasnya
Seperti halnya faktor temperatur, cahay bervariasi dalam intensitas dan lama waktu ber-cahaya.
Di daerah tropis dengan intensitas yang tinggi fotooksidasi lebih kecil dibandingkan di daerah sedang karena itu foto respirasinya cepat. Hal ini mengakibatkan sintesis protein kurang.
Kualitas cahaya berpengaruh berbeda terhadap proses-proses fisiologi tanaman. Tiap proses fisiologi  di dalam respon terhadap kualitas cahaya juga berbeda-beda sehingga di dalam menganalisis komposisi cahaya untuk tiap-tiap proses fisiologi tersebut sangat sukar. Tiap-tiap spesies tanaman juga mempunyai tanggapan yang berbeda-beda terhadap tiap kualitas cahaya.
Kita ketahui bahwa panjang gelombang distribusinya dari pagi-sore berbeda. Pada pagi hari kebanyakan panjang gelombang pendek dan semakin sore panjang gelombang pendek berkurang dan panjang gelombang panjang bertambah. Oleh karena itu fotosintesis paling efektif sesudah siang hari.
Fotoperiodisitas yaitu panjangnya penyinaran matahari pada siang hari. Biasanya dari daerah tropik semakin ke kutub panjang penyinaran matahari semakin panjang. Dalam hal ini kita mengenal tanaman hari panjang, dan tanaman hari pendek.Tanaman hari panjang : Tanaman yang baik hidupnya pada suatu daerah maupun untuk ke fase generatif memerlukan panjang hari penyinaran kurang dari 12 jam.Tanaman hari pendek : Tanaman yang baik hidupnya pada suatu daerah maupun untuk ke fase generatif memerlukan panjang hari penyinaran kurang dari 12 jam.
Meskipun sejumlah spesies terbukti tidak peka terhadap faktor panjang penyinaran tetapi hal ini menentukan apakah tanaman-tanaman tersebut hanya dapat membentuk bagian-bagian vegetatif saja.Juga panjang penyinaran menentukan apakah tanaman-tanaman tersebut akan membentuk internodia yang panjang atau yang lebih pendek daripada internodia yang normal. Di dalam tanaman hari pendek panjnagnya penyinaran merupakan faktor pembatas yang berakibat membentuk bagian-bagian vegetatif yang bersifat gigas (besar) sedang pembungaannya dikekang. Tanaman hari panjang jika tanaman pada daerah yang panjang penyinarannya lebih pendek akan menunjukkan pertumbuhan internodia yang lebih pendek dan cenderung membentuk roset dan pembungaan tanaman hari panjang ini akan dikekang.
  F. Kesimpulan
Daftar Pustaka
  • Waluyo, Tri dan Saptomo Setiawan. 2008. Penuntun Praktikum Ekologi Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Nasional. Jakarta
  • http://mymathematicalromance.wordpress.com/category/pelajaran/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar